Anak

Anak Anda Sering Mengamuk?

Mengamuk atau bisa juga kita ambil istilah psikologinya dalam bahasa asing sebagai temper tantrum adalah episode dari kemarahan dan frustrasi yang ekstrim.

Anak tampak seperti kehilangan kendali yang dicirikan oleh perilaku menangis, berteriak, dan gerakan tubuh yang kasar/agresif seperti membuang barang, berguling di lantai, membenturkan kepala, dan menghentakkan kaki ke lantai.

Pada anak yang lebih kecil (lebih muda) biasanya sampai muntah, pipis, atau bahkan nafas sesak karena terlalu banyak menangis dan berteriak.

Dalam kasus tertentu, ada pula anak yang menendang atau memukul orangtua, baby sitter, atau orang-orang lain di sekitar yang mencoba menenangkannya.

Perilaku mengamuk biasanya terjadi pada usia 2-4 tahun ketika anak mulai menampilkan kemandirian dan sikap negativistik (cenderung ingin melakukan yang sebaliknya dari yang diminta/diharapkan).

Seiring waktu (usia 5 โ€“ 12 tahun), ketika anak sudah mulai dapat mengungkapkan keinginan dan pemikirannya dengan baik secara verbal, temper tantrum cenderung berkurang, dan hanya terjadi kadangkala saja.

Dengan catatan, orangtua dan orang-orang lain sekitar anak bereaksi secara tepat setiap kali anak menampilkan temper tantrum.

Faktor Penyebab

 Beberapa hal mungkin menjadi penyebab perilaku mengamuk:

  1. Frustrasi karena terhambatnya pemenuhan kebutuhan/keinginan, tidak mendapatkan apa yang ia inginkan. Dalam kondisi seperti ini, biasanya anak mengkomunikasikan perasaannya (frustrasi, kecewa, marah) ketimbang pikirannya (bahwa ia menginginkan sesuatu).
  2. Ketidakmampuan anak untuk menyadari/mempersepsikan bahwa dirinya sedang jengkel, frustrasi, ataupun cemas. Akibatnya anak tidak dapat mengkomunikasikan perasaannya pada orang lain (dalam hal ini mungkin orang tua atau pengasuhnya) selain melalui perilaku mengamuk.
  3. Ketidakmampuan anak untuk mengekspresikan pendapatnya, keinginannya, dan lain-lain, secara verbal. Bisa jadi karena keterbatasan kemampuan berbahasa (belum lancar berbicara) atau kurangnya pemahaman akan bentuk-bentuk emosi yang ia rasakan sehingga kurang dapat mengungkapkannya secara verbal.
  4. Meniru/imitasi perilaku orangtua yang agresif atau teman-teman lainnya yang mendapatkan keinginan dengan cara menampilkan perilaku mengamuk.
  5. Kegelisahan dalam diri akibat hal-hal yang sifatnya lebih klinis. Contohnya pertengkaran orangtua yang berlangsung di hadapannya, anak korban pelecehan seksual (orangtua perlu peka dalam hal ini ketika perilaku anak secara drastis berubah, yang tadinya manis dan ceria tiba-tiba jadi kasar dan pemarah), dll.

Catatan : Perilaku mengamuk dengan penyebab klinis (poin no 5) perlu penanganan khusus.

Jika Perilaku Mengamuk Anak Tidak Segera Diatasi

Dampak buruknya perilaku mengamuk akan menjadi satu-satunya cara bagi anak untuk mengekspresikan kemarahan atau rasa frustrasinya. Anak juga akan belajar bahwa dia dapat menguasai/mendominasi lingkungan, termasuk mendominasi orangtua atau orang dewasa lain di sekitarnya.

Lebih buruk lagi perilaku ini akan semakin sering dilakukan sampai melampaui batas proporsional yang melebihi tuntutan situasi. Maksudnya anak menjadi semakin cepat mengamuk setiap kali ada hal yang tidak disukainya, padahal bagi anak lain situasi itu belum cukup menjengkelkan untuk sampai mengamuk.

Apa yang Sebaiknya Dilakukan Ketika Anak Mengamuk?

Jangan mendukung/menguatkan perilaku mengamuk anak, jangan turuti apa yang ia mau. Berikan alasan yang logis dan jujur kepada anak mengenai penyebab keinginannya tidak dituruti.

Misalnya jika orangtua tidak ingin membelikan mainan yang diinginkan anak karena belum lama ini baru saja membeli mainan sejenis.

Jika anak masih mengamuk, diamkan saja. Dalam hal ini, orang tua harus berani menanggung malu jika memang anak menampilkan tantrumnya di tempat umum.

Bawa anak ke suatu tempat, misalnya kamar mandi untuk berteriak, melemparkan benda agar masuk ke suatu tempat (ring basket misalnya), menggambar wajah kejam/marah, berolahraga, main sepeda, dan sebagainya yang dapat menghabiskan energi ataupun mengekpresikan kemarahannya dengan cara lain selain mengamuk.

Cara lain yang sangat efektif dan sangat saya dukung adalah memeluk anak. Peluklah anak dengan penuh kesabaran, belailah dengan penuh kasih sayang, biarkan dia tenang dalam pelukan Anda.

Bagaimana Sebaiknya Bersikap Ketika Perilaku Mengamuk Berlalu?

Setelah kemarahan anak mereda, beberapa hal yang dapat dan perlu dilakukan orangtua adalah:

  1. Katakan kepada anak bahwa Anda menyayanginya tetapi tidak menyukai perilaku mengamuknya.
  2. Latih anak untuk belajar mengendalikan perilakunya dengan mengajarkan cara-cara mengekspresikan perasaannya. Atau setiap kali orangtua melihat anaknya mulai mengamuk, tanyakan kepadanya apakah ada sesuatu yang mengganggunya, dan katakan bahwa Anda siap membantunya.
  3. Jika anak sulit mengekspresikan perasaannya, tanyakan secara langsung hal-hal yang Anda duga sedang dirasakan anak. Jika Anda tidak memiliki ide mengenai apa yang sedang dirasakan anak Anda, tanyakan beberapa pertanyaan umum, seperti apa yang terjadi di sekolah, apakah dia marah karena tugas yang anda berikan kepadanya, dll.
  4. Introspeksi diri mengenai bagaimana Anda bersikap dan berperilaku di rumah, terhadap anak, terhadap pasangan, terhadap asisten rumah tangga, dll. Termasuk juga introspeksi mengenai kesamaan cara pengasuhan anak dengan pasangan, baby sitter, mertua, dan pihak-pihak lain yang ikut mengasuh anak. Jika Anda tidak setuju dengan cara pasangan (atau figur pengasuh lainnya) dalam menghadapi anak, jangan menentangnya di depan anak. Bicarakan baik-baik ketika anak tidak ada.

Mencegah Perilaku Mengamuk

Mencegah selalu dianggap lebih baik dibandingkan mengatasi perilaku negatif yang telah terjadi. Berikut ini adalah beberapa cara mencegah perilaku mengamuk yang dapat dilakukan orangtua sehari-hari, yaitu:

  1. Atur pola pembentukan perilaku anak. Misalnya ketika anak berlaku baik, pujilah atau berikan reward. Bila perlu atur kontrak/kesepakatan dengan anak mengenai hal ini. Misalnya jika anak berlaku baik (tidak mengamuk) akan diberikan sesuatu atau dikumpulkan tanda bintang atau poin-poin untuk ditukarkan dengan sesuatu. Pujian untuk anak sebaiknya langsung spesifik kepada perilakunya yang menyenangkan. Misalnya, Ibu senang melihat kamu mau merapikan seragam sekolahmu. Atau Ibu senang kamu mau menunda untuk membeli mainan baru.
  2. Ketika anak berlaku tidak menyenangkan, jangan menghukum secara fisik ataupun dengan makian verbal. Hukuman fisik ataupun makian verbal hanya akan membuat anak belajar bahwa perilaku kasar dapat dibenarkan. Toh orangtua saya melakukan hal yang sama, demikian anak akan berpikir. Dengan pola pembentukan perilaku seperti ini, anak akan mengerti bahwa perilaku baiknya akan mendatangkan perhatian/pujian, tetapi tidak demikian dengan perilaku buruk.
  3. Jadilah contoh yang baik bagi anak. Bukan hanya tidak menampilkan perilaku kasar terhadap anak, tetapi juga hindari berperilaku kasar terhadap pasangan. Dengan demikian anak dapat melihat dan meniru contoh yang baik dari orangtuanya.
  4. Penuhi kebutuhan fisiologis anak seperti lapar, haus, dan tidur. Anak cenderung menampilkan tantrum saat lapar, haus, dan mengantuk karena kurang tidur.
  5. Penuhi kebutuhan bermain anak. Dengan bermain, anak mengeluarkan energinya secara teratur. Dengan begitu, tidak akan ada energi berlebih yang perlu ia salurkan melalui perilaku mengamuk.
  6. Jangan terlalu banyak menuntut atau membatasi anak. Perilaku mengamuk bisa jadi merupakan tanda anak minta Anda berhenti untuk mengekang atau mengontrolnya.
  7. Beranikan anak untuk menyatakan keinginannya dalam cara-cara yang dapat diterima secara sosial. Latih anak untuk bercerita mengenai apa yang ia lakukan hari ini, bagaimana perasaan atau pendapatnya tentang sesuatu, dll. Anda dapat memulainya dari diri sendiri, misalnya bercerita pada anak tentang perasaan Anda seperti Anda senang hari ini karena berhasil mengerjakan sesuatu, atau Anda jengkel karena sesuatu hal (tentu perlu memilih apa yang dapat diceritakan pada anak). Dengan demikian anak belajar bahwa meski kita kecewa dan marah, kita tidak perlu ngamuk tetapi dapat mengungkapkannya dengan kata-kata.
  8. Ajari anak melakukan teknik relaksasi sederhana seperti mengambil nafas dalam lalu melepaskannya secara perlahan. Apabila perilaku mengamuk terjadi, hal ini dapat pula dilakukan.

Dimodifikasi pada April 2020.

 

9 comments on “Anak Anda Sering Mengamuk?

  1. Salam Takzim
    Mengujungi sahabat di sore hari dengan tetap tiada bosan berdo’a semoga engkau tetap berada dalam keranda kebahagiaan bersama keluarga tercinta
    Salam Takzim Batavusqu

    Like

  2. Maap baru mampir lagi, kesibukan ternyata juga menjadi dinding persahabatan ya

    Like

    • esterlianawati

      Gpp kok, pak. Sklpun sibuk, yg penting tetap teringat. Hehe.
      Mksh ya dah mampir lg..

      Like

  3. Berkunjung & Salam kenal mbak…

    Terima kasih share tentang tantrum nya

    Salam
    Niken

    Like

  4. Salam kenal mbak Ester, artikel2nya bagus,cara menulisnya menarik dan mudah dicerna serta bermanfaat. Thanks a lot

    Like

    • Ester Lianawati

      Salam knl jg mbak Sita.
      Bnyk trm ksh udah mampir dan memuji ๐Ÿ™‚
      Ditunggu sumbang sarannya ya.
      Salam.

      Like

  5. ane bantu share ke facebook yaq

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: