Diri Well-being

Self-serving Bias

photo-1525828676209-855204720969

Dear all, buku saya berjudul Ada Serigala Betina Dalam Diri Setiap Perempuan.Psikologi Feminis Untuk Meretas Patriarki baru saja diterbitkan EA Books. Barangkali teman-teman tertarik, buku dapat ditemukan di sini. Terima kasih.

Pada tanggal 13 Maret 2020, untuk pertama kalinya Presiden Perancis Emmanuel Macron berbicara di televisi terkait dengan virus corona. Ia mengumumkan penutupan seluruh institusi pendidikan dan tempat penitipan anak, yang akan diikuti dengan working from home agar para orangtua dapat menjaga dan mendampingi anaknya belajar di rumah.

Saat itu Presiden Macron belum mengumumkan lockdown tapi sudah meminta rakyat Perancis untuk tidak keluar rumah jika tidak perlu. Beliau secara khusus meminta para lansia untuk tidak keluar rumah, dan meminta keluarga menghentikan kunjungan mereka ke panti wreda. 

Namun beliau tetap mempertahankan penyelenggaraan pemilihan pilkada tanggal 15 Maret 2020. 

Suami saya kebetulan bergabung dengan sebuah parpol. Parpolnya, sangat disayangkan, kalah. Ketua parpol dan seluruh anggota mencak-mencak termasuk suami saya tentunya. Mereka menyalahkan Macron yang tidak koheren, yang menekankan kondisi negara dalam “bahaya” sementara tetap mempertahankan penyelenggaraan pemilihan pemda. 

Selama beberapa hari saya mendengarkan gerutuan suami saya sampai pusing kepala. Akhirnya tidak tahan lagi, saya ajukan pertanyaan untuk menggodanya, ”Kalau saja partai kalian menang, apa kalian masih menyalahkan Macron?”

Ia tidak menjawab, hanya matanya melotot jengkel kepada saya yang sedang cekikikan. Tetapi sejak itu untunglah ia berhenti menggerutu. 

Sebenarnya, bukannya tidak mendukung ataupun tidak berempati terhadap kelompok partai suami, tetapi kami sama-sama paham bahwa apa yang mereka lakukan (menyalahkan Macron) adalah salah satu bentuk bias persepsi yang dalam psikologi dinamakan self-serving bias

Bentuk-bentuk self-serving bias

Self-serving bias adalah proses persepsi atau kognisi yang mengalami bias atau distorsi akibat kecenderungan untuk melayani (serve) diri, dalam arti mempertahankan dan memperkuat harga diri. Bias ini dapat tampil dalam beberapa bentuk. 

Pertama, seseorang memandang dirinya sebagai pihak yang paling berperan ketika ia berhasil dan menyalahkan orang lain ketika ia gagal. Contoh partai suami saya adalah salah satunya. 

Contoh lain yang sering saya temukan adalah dosen yang menganggap dirinya telah mengajar dengan baik ketika mahasiswa/i berhasil. Sebaliknya mengkritik mahasiswa/i yang mendapatkan nilai buruk sebagai kurang cerdas, tidak mandiri, tidak serius belajar, dll. Begitu pula sebaliknya dengan mahasiswa/i tentunya yang mengkritik dosen tidak cakap mengajar ketika nilainya buruk. 

Bentuk kedua dari self-serving bias adalah yang disebut dengan optimistic bias. “Pasangan lain boleh tidak bahagia, tetapi kami saling mencintai dan akan bahagia selamanya,”demikian kurang lebih optimisme para pengantin baru. 

Bentuk ketiga dinamakan dengan false consensus bias, yakni kecenderungan seseorang untuk menganggap orang lain memiliki sikap, pandangan, atau minat yang sama dengan dirinya sendiri. Kita biasanya keheranan bila orang lain tidak menyukai hal yang sama dengan kita. Seolah-olah kita mengharapkan ada semacam kesepakatan (consensus). 

False consensus bias juga bisa terjadi ketika kita cenderung menganggap orang lain juga memiliki sifat buruk atau hal-hal buruk lainnya yang sama dengan kita. Seorang pria yang ketahuan berselingkuh oleh kekasihnya bukannya meminta maaf malah balik bertanya, ”Iya, saya berselingkuh. Tapi bukankah hampir semua laki-laki melakukannya?”

Perhatikan bahwa hanya hal buruk yang kita anggap orang lain juga sama dengan kita. Sedangkan dalam kelebihan yang kita miliki, kita cenderung menganggapnya unik. Hal ini merupakan bentuk keempat dari self-serving bias yang dinamakan dengan false uniqueness bias.  

Bentuk kelima adalah yang dinamakan dengan BIRG-ing atau Bask in Reflected Glory. BIRG-ing merupakan kecenderungan seseorang untuk ikut menikmati kejayaan atau keberhasilan orang lain dengan mengasosiasikan diri terhadap orang yang sedang sukses tersebut. Contohnya kita dengan bangga mengatakan masih ada hubungan saudara dengan aktris A atau aktor B. 

Bentuk keenam, bertolak belakang dengan BIRG-ing adalah cut off reflected failure, yakni kecenderungan manusia untuk melepaskan diri atau tidak dekat-dekat dengan orang yang gagal atau melakukan kesalahan. Contohnya sering terjadi ketika orang menjauhi temannya yang sudah bangkrut dan jatuh miskin. 

Dampak Negatif

Apakah ada di antara Anda yang melakukan salah satu saja dari empat hal di atas? Tidak usah malu mengakuinya. Self-serving bias adalah salah satu bias yang sangat manusiawi. Tidak ada seorang pun manusia yang tidak melakukannya. Anda pasti melakukannya, seperti saya (Ups, mode self-serving bias saya sedang aktif hehehe). 

Dalam kadar tertentu, self-serving bias punya fungsi positif untuk meningkatkan harga diri (self-esteem). Namun biasanya hanya bersifat sementara karena tidak menyentuh persoalan sesungguhnya. Yang jelas, dampak negatifnya lebih banyak ketimbang positifnya. 

Pertama, kita tidak akan bisa memperbaiki diri karena self-serving bias mencegah kita untuk belajar dari kesalahan ataupun mengenali kekurangan kita. Akibatnya bukan tidak mungkin kita akan mengalami kegagalan berulang. 

Kedua, jika kita senantiasa menganggap diri kita adalah yang terbaik, kita tidak pernah dapat dengan rendah hati belajar dari orang lain yang mungkin memang lebih baik atau lebih kompeten dari kita di bidang tertentu. 

Ketiga, self-serving bias juga menghambat kita untuk mengantisipasi persoalan yang mungkin akan muncul. Akibatnya nanti kita tergagap-gagap saat persoalan itu datang dan malah jadi sulit menyelesaikannya. Hal ini khususnya terjadi bila kita memiliki optimistic bias

Keempat, kita akan sulit menyikapi perbedaan pendapat dan sulit menerima keragaman, bila cenderung menginginkan orang lain memiliki kesamaan dengan kita. Akibatnya lingkup pergaulan kita pun akan terbatas. 

Kelima, merusak atau memperburuk hubungan kita dengan pasangan ataupun orang lain jika kita cenderung menyalahkannya. Orang yang sering melakukan self-serving bias juga akan terkesan sombong. Tentunya tidak akan ada yang betah berlama-lama dengan orang sombong yang senang menyalahkan orang lain dan tidak dapat melihat kekurangan diri.  

Jadi meskipun melakukannya adalah manusiawi, bukankah lebih baik kita segera menghentikannya jika sudah berlebihan?

Untuk contoh lainnya, lihat Lagi, self-serving bias !

Mengenai faktor-faktor yang mendorong manusia melakukan self-serving bias, lihat di sini : Mengapa kita melakukan self-serving bias?

 

Kredit photo : Karl JK Hedin @unsplash.com

Dimodifikasi pada Maret 2020

4 comments on “Self-serving Bias

  1. Kalau faktor faktor yg memengaruhi self serving bias itu apa ya?

    Like

  2. Pingback: Mengapa kita melakukan self-serving bias? – PSIKOLOGI FEMINIS

  3. Pingback: Lagi, self-serving bias ! – PSIKOLOGI FEMINIS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: