Uncategorized

Grounded Theory

Salah satu metode penelitian kualitatif yang dapat digunakan untuk meneliti variabel psikologis adalah grounded theory. Sayangnya dalam lingkup psikologi sendiri, metode ini kurang popular dibandingkan studi kasus. Padahal metode ini dapat menghasilkan temuan yang sangat kaya.

Metode ini diciptakan oleh Barney Glasser dan Anselm Strauss pada tahun 1967. Mereka menentang metode penelitian yang berkembang pada masa itu yang terkesan memaksakan teori besar (grand theory) yang sudah ada untuk memaknai hasil penelitian. Padahal teori besar itu sendiri umumnya hanya merupakan hasil pemikiran semata yang tidak diujikan secara empiris.

Pengertian Grounded Theory

Glasser dan Strauss memaknai grounded theory sebagai metode penelitian yang bertujuan menghasilkan atau membangun suatu teori yang bertumpu atau didasarkan pada data (grounded). Jadi berbeda dengan metode penelitian lain yang menggunakan teori untuk memaknai data yang diperoleh, penelitian grounded theory justru mengembangkan teori baru dari data tersebut.

Kata theory menyiratkan sebuah dedikasi untuk membangkitkan teori, bukan sekedar menguji teori ataupun hanya menyediakan penjelasan deskriptif mengenai topik yang diteliti seperti dalam penelitian etnografis.

Teori yang dihasilkan dinamakan grounded untuk menunjukkan perlunya peneliti menghubungkan setiap penjelasan yang muncul dalam pengolahan data dengan data itu sendiri, yakni dengan apa yang terjadi dalam situasi praktis di lapangan.

Teori Substantif dan Teori Formal

Teori yang dihasilkan dengan metode grounded theory dapat berupa teori substantif (substantive theory) dan teori formal (formal theory). Teori substantif adalah teori yang dikembangkan dari lingkup atau situasi khusus tertentu seperti perawatan pasien inap atau komitmen pekerjaan staf akademis. Generalisasinya terbatas pada lingkup khusus yang sejenis. Sedangkan teori formal bermain pada wilayah konseptual yang lebih abstrak dan dapat diterapkan untuk populasi yang lebih luas.

Posisi Teori dalam Grounded Theory

Tujuan grounded theory untuk menghasilkan teori telah menimbulkan salah interpretasi terhadap metode ini. Grounded theory seringkali dianggap sebagai metode penelitian yang tidak membolehkan peneliti dipengaruhi oleh teori-teori atau penelitian sejenis lainnya yang telah dilakukan sebelumnya.

Padahal baik Glasser maupun Strauss tidak memaksudkan grounded theory sedemikian ekstrim. Mereka memang mensyaratkan pikiran yang bebas dari segala macam teori atau hasil penelitian sebelumnya. Namun bukan berarti dalam penelitian dengan metode grounded theory tidak ada kajian literatur sama sekali. Karena mulai dari merumuskan masalah, seorang peneliti tentu harus mendasarkannya pada konsep yang diambil dari pengalaman ataupun kajian literatur sebelumnya.

Bahkan baik Strauss maupun Juliet Corbin, yang belakangan juga turut  mendalami grounded theory, memandang positif adanya tinjauan kepustakaan dari penelitian-penelitian sebelumnya. Menurut mereka, tinjauan kepustakaan yang mereka sebut sebagai technical literature ini, dapat menjadi salah satu bekal kepekaan teoretis (theoretical sensitivity) seorang peneliti dalam sebuah penelitian grounded theory. Peneliti justru harus memiliki bekal teoretis yang akan memengaruhi caranya dalam mengolah data menjadi sebuah teori.

Hanya saja dalam grounded theory, tinjauan literatur masih bersifat sementara (provisional) dan terbuka untuk terus dipertanyakan selama penelitian berlangsung. Dalam pengolahan data nantinya, konsep itu dapat difungsikan sebagai data yang juga harus diolah selama penelitian berlangsung.

Tinjauan teoretis ini dapat menjadi sebuah fokus awal (beginning focus), yakni sebuah garis dimana peneliti akan memulai penelitiannya. Tanpa fokus awal ini, sebuah penelitian tidak dapat disebut menggunakan pendekatan grounded theory melainkan sekedar jump in at the deep end, try it and see, ataupun find out as we go.

Metode Pengumpulan Data

Untuk dapat menghasilkan teori yang grounded, seorang peneliti harus bekerja di lapangan. Ia harus mengumpulkan data di lapangan, bukan hanya ketika memulai penelitian namun juga sepanjang penelitian.[1]

Bukan berarti hanya metode wawancara dan observasi lapangan yang dapat dijadikan sebagai alat pengumpulan data. Semua materi dapat digunakan baik itu hasil wawancara, observasi, transkrip pertemuan, surat dan buku harian, data sensus, jawaban kuesioner, dan jenis data lain.

Yang perlu diperhatikan adalah metode pengumpulan data ini harus dapat menghasilkan data yang kaya guna mengembangkan sebuah teori dan sedapat mungkin tidak boleh mengandung teori. Oleh sebab itu wawancara yang digunakan adalah wawancara tidak terstruktur atau semi terstruktur. Observasi yang dilakukan harus mencatat semua peristiwa yang terjadi dan tidak menggunakan pengkodean perilaku (behavioral coding).

Teknik Pengolahan Data

Untuk dapat mengembangkan sebuah teori, Glasser dan Strauss menawarkan pengolahan data melalui 4 tahap, yakni (1) membuat kode-kode, (2) mengelompokkan kode-kode itu menjadi konsep, (3) mengelompokkan konsep yang sama menjadi kategori, dan (4) menghasilkan teori yakni kumpulan penjelasan mengenai topik yang dikaji dalam penelitian itu. Tiap tahap akan merefleksikan apa yang telah ditemukan sejauh ini dan juga memperlihatkan sudut baru dan cara baru yang harus dieksplorasi.

Namun pada tahun 1990, Strauss dan Corbin menawarkan pengolahan data dalam cara yang lain. Pengolahan ini juga melibatkan 4 tahap utama. Pertama adalah open coding. Dalam tahap ini, akan dilakukan pembentukan kategori-kategori awal. Dari setiap kategori akan diturunkan sejumlah subkategori, atau disebut sebagai properti oleh Straus dan Corbin.

Tahap kedua adalah axial coding yang mereduksi kategori-kategori yang muncul pada tahap open coding. Kemudian kategori-kategori itu dihubungkan dengan subkategori-subkategori yang ada sampai menghasilkan fenomena utama (central phenomenon; key component). Dalam tahap ini, kepadatan kategori juga diperluas dengan cara mengeksplorasi kategori atau kondisi yang memengaruhi fenomena (causal conditions) atau variasi-variasi dalam fenomena.

Tahap ketiga adalah selective coding, yakni memilih atau memusatkan perhatian pada kategori yang paling signifikan, mengkaitkannya dengan kategori-kategori lain (kategori penyebab, konteks, dan lain-lain), memvalidasi kaitan-kaitan itu, dan melengkapi kategori yang masih butuh diperhalus. Pada akhir tahap ini, proposisi bersyarat (hipotesis) sudah dapat disajikan, baik dalam bentuk pernyataan naratif ataupun gambaran visual. Akhir tahap ini dapat disebut pula sebagai tahap keempat yakni ketika sebuah teori sudah berhasil dikembangkan.

Tahap-tahap yang dikemukakan Strauss dan Corbin cukup sering digunakan karena strukturisasi data seperti itu dianggap mempermudah cara bekerja. Namun Glasser menentang dan menganggapnya tidak sesuai dengan jiwa grounded theory itu sendiri. Menurutnya, Strauss dan Corbin memaksakan (forcing) kemunculan teori ke dalam paradigma pengkodean dan tidak membiarkan data itu sendiri memunculkan (emerging) teori.

Ketidaksetujuannya ini dituangkan dalam sebuah buku berjudul Basics of Grounded Theory Analysis: Emergence Vs. Forcing.

Meskipun Glasser dan Strauss pada akhirnya bertentangan dalam hal pengolahan data, mereka tetap sependapat mengenai metode analisis data yang disebut dengan constant comparative method. Yang dimaksud dengan metode ini adalah membandingkan kode-kode, kategori-kategori, dan konsep yang muncul dalam setiap tahap analisis data dengan mengacu kepada data secara terus menerus.

Perbandingan semacam ini akan menghasilkan semacam panduan bagi peneliti itu sendiri mengenai data apa yang masih harus digali selanjutnya.

Teknik Pengambilan Sampel

Terkait dengan titik jenuh teoretis, teknik pengambilan sampel dalam grounded theory bersifat teoretis, atau disebut dengan theoretical sampling. Dalam teknik ini, peneliti tidak menentukan ukuran dan kriteria sampel secara spesifik karena akan muncul dengan sendirinya saat menganalisis data. Tiap tahap analisis data dalam penelitian grounded theory akan memberi masukan pada peneliti mengenai data yang masih harus digali dan jenis/kriteria sampel yang mungkin dapat memberikan data tersebut. Jadi seiring dengan proses pengolahan data, peneliti akan mengambil sampel yang sesuai dengan petunjuk dari hasil olah data itu. Dengan demikian, theoretical sampling merupakan purposive sampling.

Proses penelitian grounded theory akan melibatkan pemilihan unit yang terus berkesinambungan sampai penelitian tiba pada satu titik yang dinamakan dengan titik jenuh teoretis (theoretical saturation). Pada saat penelitian telah mencapai titik jenuh teoretis ini, data baru akan lebih bersifat mengkonfirmasi analisis yang ada daripada menambahkan sesuatu yang baru. Saat titik jenuh tiba, peneliti akan mengetahui bahwa sampel sudah mencukupi.

Oleh karena itu, penelitian grounded theory akan dimulai dengan mengambil sampel yang homogen terlebih dahulu. Setelah proses mengembangkan teori berlangsung, yakni selama proses analisis data, peneliti akan mulai memilih dan mengkaji dari sampel yang lebih heterogen. Karakteristik dari sampel heterogen baru dapat ditentukan seiring peneliti mengolah data.


[1] Perlu diketahui kini telah muncul dua versi dari grounded theory terkait dengan hal ini, yakni  versi lengkap (full version) dan versi singkat (abbreviated version). Jika mengggunakan versi singkat, peneliti hanya menggunakan data yang telah dikumpulkan dan tidak perlu kembali ke lapangan. Jadi dalam versi singkat tidak berlaku constant comparative method, theoretical saturation, dan theoretical sampling. Namun dalam pandangan saya, versi singkat sama sekali tidak sesuai dengan jiwa grounded theory itu sendiri.

0 comments on “Grounded Theory

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: