Hukum KDRT

Jika Korban KDRT Belum Ingin Memproses Kasus Secara Hukum

Korban KDRT (yang dimaksud di sini adalah korban kekerasan suami/kekasih) punya banyak pertimbangan untuk tetap bertahan, tidak meninggalkan pelaku, dan apalagi memroses kasusnya secara hukum. Kita mungkin cenderung menganggapnya bodoh, tidak mau meninggalkan pelaku yang sudah jelas-jelas hanya menyakitinya secara fisik maupun mental. Namun sikap ini sama sekali tidak membantu korban.

Perlu kita pahami bahwa proses korban mengambil keputusan untuk meninggalkan pelaku memang tidak mudah. Ada sejumlah aspek struktural seperti faktor ekonomi, anak, dll. Aspek-aspek struktural ini berpadu dengan ‘kepandaian’ pelaku dalam membangun mekanisme tertentu yang ‘melumpuhkan’ korban, membuat korban merasa tidak berdaya, dan memilih bertahan. Ditambah lagi dengan faktor internal dalam diri korban yang dapat dijelaskan secara psikologis.

Rekan-rekan yang terkasih, jika rekan-rekan mengalami KDRT, silakan klik di sini untuk menemukan nama-nama lembaga yang dapat membantu.

Membawa kasus kekerasan yang dialami ke proses hukum adalah hal lain, yang juga bukan keputusan mudah. Pelaku adalah suami dan ayah dari anak-anak. Melaporkan pelaku adalah membuka aib sendiri.

Yang seringkali terjadi ketika korban akhirnya mengambil keputusan untuk keluar dari relasi kekerasan ini dan ingin memroses kasusnya secara hukum, ia sudah tidak memiliki bukti lagi. Padahal hukum kita masih membuktikan bukti-bukti nyata yang kasat mata.

Meskipun Undang-undang Penghapusan KDRT (UU PKDRT) telah membuka celah untuk visum psikis/psikiatris, dalam praktiknya cenderung hanya visum medis yang dijadikan acuan pembuktian. Hal ini dapat dipahami mengingat masih adanya kendala dalam operasionalisasi kekerasan psikis dan dampak psikis itu sendiri.

Oleh sebab itulah, meskipun mungkin saat ini tidak terpikir untuk memproses kasus secara hukum, korban disarankan untuk tetap mengupayakan pengumpulan bukti-bukti dengan cara-cara sebagai berikut:

1. Jangan ragu atau malu untuk menceritakan kekerasan yang dialami. Carilah seorang teman/saudara/ atau siapapun yang dapat dipercaya.

2. Ceritakan pada orang yang dapat dipercaya itu setiap kali terjadi kekerasan. Katakan bahwa Anda belum dapat melaporkan suami, namun ingin teman/saudara Anda itu membantu jika suatu saat Anda ingin melaporkan suami.

3. Catatlah setiap kali kekerasan terjadi dalam buku harian (jika dapat menyimpannya dalam bentuk elektronik akan jauh lebih baik). Jangan simpan di rumah Anda karena pelaku/suami/mantan suami bisa saja menemukannya. Mintalah orang yang dapat Anda percaya untuk menyimpan catatan-catatan itu.

4. Setiap kali ada luka fisik, jangan malu untuk menunjukkannya pada orang lain. Justru pergilah berbelanja di warung dekat rumah, atau sekedar menunjukkan luka itu pada teman/tetangga. Biarkan orang bertanya, tidak perlu menjelaskan jika tidak mau.

Yang terpenting adalah bahwa ada orang yang dapat dijadikan saksi kelak jika Anda ingin melapor. (Sebenarnya UU PKDRT telah membuat terobosan hukum dengan menjadikan saksi korban saja sudah cukup. Namun dalam praktiknya aparat penegak hukum cenderung menuntut kehadiran saksi lain karena berpedoman pada KUHP. Atau meskipun tidak menuntut, kehadiran saksi lain seringkali menjadi ‘nilai tambah’ tersendiri dalam menjatuhkan hukuman atas pelaku).

5. Mintalah orang yang Anda percaya (atau Anda dapat lakukan sendiri) untuk memfoto atau merekam tubuh/wajah Anda yang terluka akibat kekerasan suami. Simpanlah foto-foto itu di tempat aman. Jika perlu pergilah ke rumah sakit segera agar ada catatan medis yang sewaktu-waktu penting untuk dijadikan bukti.

6. Jika Anda tidak mengalami luka fisik, tetapi Anda stres/tertekan, dan jatuh sakit, pergilah ke dokter (yang sama, sebaiknya tidak berganti-ganti dokter agar arsip Anda tersimpan di satu dokter saja).

Simpanlah kwitansi pengobatan dsb, untuk sewaktu-waktu dijadikan bukti. Arsip dokter kelak dapat berguna sebagai bukti dan dokter yang bersangkutan bahkan dapat dipanggil sebagai saksi ahli.

Saya haturkan terima kasih untuk Ibu Irawati Harsono, dosen di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian sekaligus pendiri LBPP (Lembaga Bantuan Perlindungan Perempuan dan Anak) Derap Warapsari, yang sudah bersedia membagikan saran-saran ini.

Kiranya bermanfaat untuk korban, relawan pendamping, dan pihak keluarga yang mendampingi korban.

 

Rekan-rekan yang terkasih, jika rekan-rekan mengalami KDRT, silakan klik di sini untuk menemukan nama-nama lembaga yang dapat membantu.

Silakan dibaca pula tulisan ini Panduan untuk Menolong Diri Sendiri,  kiranya dapat bermanfaat. 

16 comments on “Jika Korban KDRT Belum Ingin Memproses Kasus Secara Hukum

  1. Betul Wat…hanya saja :

    1. KDRT dianggap sebagai “aib” keluarga yang orang lain gak perlu tahu ( ini yg perlu dilurusin )
    2. Bayangan perceraian dan efek yg timbul karenanya membuat KDRT berpikir kembali utk melaporkan kasusnya ( ehmm..gimana ya )
    3. Mencoba tetep bertahan dengan kondisi yg ada sambil berharap akan ada perubahan dari pelaku KDRT ( ini yg berbahaya )

    Like

  2. esterlianawati

    Hai Mas Abie, emang yg Mas Abie sebutin itu adlh bbrp kendala yg bikin korban mikir beratus kali sblm melaporkan kasus (bercerai ataupun pidana). Pelaku jg pintar krn membangun satu mekanisme, spt minta maaf stlh melakukan kekerasan, trus kembali bersikap mesra selama bbrp waktu. Hal-hal ini sering bikin korban merasa sll ada harapan pelaku akan kembali spt semula/berubah. Sebagian besar pelaku jg bhsl menimbulkan ketakutan yg luar biasa pd korban, jd jgnkan melapor, wong keluar rumah aja takut..
    Emang kdg miris banget dgr pengalaman para korban ini. Smg sll ada org2 yg bisa menguatkan dan memberdayakan mrk.

    Like

  3. allow mbak, kemana aja jarang online…
    Yah, dulu waktu aku bekerja di WCC banyak juga kasus seperti itu yang kuhadapi… alasannya baunyak termasuk kelihaian dari pasangannya untuk menutupi kekerasan tersebut atas nama cinta…

    Kalau menurut aku seh, perempuan selalu dininabobokkan oleh faktor2 kekerasan, yang lebih parahnya adalah perempuan sering menyalahkan diri sendiri atas kekerasan yang didapatinya dari pasangan

    Like

  4. esterlianawati

    Alo Yul, iya nih lg bnyk kerjaan 🙂
    Tengkyu ya buat sharing pengalamannya. Apa yg hrs kita lakukan ya utk membantu perempuan korban..

    Like

  5. andohar purba

    Ya, keberpihakan kepada korban merupakan pergumulan dan perjuangan kaum feminis. Penggalian fakta berdasarkan sudut pandang korban juga semakin mengemuka akhir-akhir ini. Ini patut disambut baik.

    Tapi saya mencoba menawar sedikit dari sudut pandang si pelaku 😀

    Menurut teori rene girard, kekerasan tidak ada yang berdiri sendiri. Kekerasan merupakan efek rantai kekerasan yang tanpa sadar dilestarikan, diprinsipkan, bahkan ada yang mengkultuskan prinsip tersebut. :O Contoh: carok di madura

    Girard berpendapat bahwa kekerasan muncul sebagai trauma yang melawan kekerasan masa lalu yang diterima. Tanpa sadar ketika peristiwa-peristiwa hidup bersinggungan dengan pengalaman masa lalu yang pahit, kekerasan menemukan momentnya. Kekerasan sebagai bentuk melawan masa lalu yang kalah dan dipermalukan.

    Saya yakin pasti ester memahami teori2 seperti ini. Pertanyaannya, bagaimana cara menghentikan kekerasan dan rantai kekerasan yang saya alami, karena menurut girard semua orang memiliki traumatik masa lalu.

    Karena selain berupaya menyadarkan hak-hak perempuan, kita juga perlu membangun bersama budaya perdamaian yang menolak kekerasan, apapun bentuknya. Perempuan ada juga lho yg tega menyakiti suaminya dan anak-anaknya..

    Like

  6. esterlianawati

    Alo Bang Dohar,

    Emang bener, kita gak cuma perlu memperjuangkan hak-hak korban, tp jg hrs memutus rantai kekerasan. Di UU PKDRT sebenarnya sudah diatur mengenai pidana tambahan berupa konseling untuk pelaku. Tujuannya mencegah terjadinya kekerasan lg di masa yad. Sayangnya pidana tambahan ini hmpr tdk pernah diberikan kpd pelaku.

    Namun penanganan yg tepat buat pelaku sbnrnya juga masih dipikirkan krn tipe2 pelaku itu jg berbeda2. Skrg ini kami di Pulih baru mau mulai menggodok modul penanganan utk pelaku. Aku tunggu masukan dr teman2, kira2 apa yg harus dilakukan utk membantu memutus rantai kekerasan. 😉

    Tengkyu ya 🙂

    Like

  7. Yap, masukan yang bagus sekali, wanita sudah selayaknya mendapatkan perlakuan yang lembut dan bermartabat, Hal ini perlu dikampanyekan, walaupun saya lelaki, tapi tidak tega melihat wanita mendapatkan kekerasan. Mari lindungi wanita indonesia, karena wanita lah neara ini bisa maju…

    Like

  8. esterlianawati

    Makasih ya pak..coba semua laki2 spt mas haerul ini 😉

    Like

    • dyna agustin

      masih adakah laki” yg lain yg mulia nan bijaksana sperti maz haerul ini y mbk?

      Like

  9. makasih banyak buat artikelnya, memperkaya kami dalam memahami dari sisi psikologis korban.

    Like

  10. he3…

    wah ternyata…banyak juga ya orang yang peduli akan topik ini…
    aku udah baca comment yang tentang pelaku. Hua…jadi bersemangat untuk menbuat semprolku…ternyata, penelitian ku di tunggu! halah…(mencoba menyemangati diri sendiri)…
    he3.

    Thanx yak bu…dah di ijinin numpag curhat. hahahah…Ciayoooo a_y

    Like

    • esterlianawati

      gitu dong, smgt bikin proposalnya 🙂
      btw, kyknya km jd rajin mampir ke blogku, pri :p

      Like

  11. bu…jangan sebut nama belakang…..aku kan udah pake nisial…ha3.

    tadinya…pengen cari bahan tambahan…seputar KDRT…sapa tahu dapet info baru yang menarik…eh, insting ku mengarahkan liat blog ibu. ha3…

    aku juga numpang baca artikel yang lain yak…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: