Perempuan & Gender

Perempuan, Tubuh, dan Kecantikan

Banyak perempuan sangat memikirkan kecantikan. Sesama perempuan bahkan sering menganggap perempuan lain sebagai saingan untuk mendapatkan pengakuan atas kecantikannya. Mengapa hal ini dapat terjadi?

Tulisan ini sudah diperbaharui, diperbaiki dan dilengkapi, temukan dalam buku Ada Serigala Betina Dalam Diri Setiap Perempuan : Psikologi Feminis Untuk Meretas Patriarki. Hadiri diskusinya tanggal 14 Maret 2021, selengkapnya lihat di link ini ya :

https://www.instagram.com/p/CHH-2hNhoW8/

 

Perempuan sejak kecil memang sudah dibentuk untuk memperhatikan penampilan fisiknya. Perempuan mendapatkan penguatan (reinforcement) untuk tampilannya yang menarik di mata orang lain. Kalimat-kalimat seperti, “Wah pitamu bagus ya,” atau  “Kamu cantik sekali dengan gaun itu,” dan juga “Duh siapa yang kepang-in tuh rambutmu jadi manis begitu?” merupakan kalimat yang cukup sering terlontar dari mulut orangtua, saudara, tetangga, dsb kepada anak-anak perempuan.

Selain reinforcement dari lingkungan, media juga memiliki kekuatan luar biasa untuk mengkonstruksi kecantikan perempuan. Majalah-majalah menjejalkan perempuan dengan tips-tips kecantikan. Iklan produk kecantikan bertaburan di mana-mana, dengan cerita iklan tipikal : laki-laki akan menatap dengan penuh kekaguman pada perempuan yang kulitnya sudah berubah menjadi putih, yang rambutnya sudah menjadi indah, atau keriputnya sudah berganti dengan kulit kencang setelah penggunaan produk-produk ajaib itu.

Iklan-iklan semacam itu jelas memberikan vicarious reinforcement, yakni reinforcement yang sebenarnya diterima orang lain (model iklan) tetapi kita sebagai si pengamat ikut merasakannya. Hal ini memacu perempuan untuk membeli produk tersebut agar dapat mengalami sendiri reinforcement yang diterima si model dalam iklan tersebut. Dengan meminjam istilah Albert Bandura dalam teori belajar sosial (social learning theory), perempuan yang menyaksikan iklan itu meniru (modeling) perilaku si model iklan.

Iklan-iklan tersebut juga menampilkan model-model yang tipikal : muda, berkulit putih, berambut panjang, dan bertubuh seksi. Padahal jika kita mengacu pada prinsip distribusi normal dalam statistik, maka jumlah individu yang memiliki nilai rata-rata (dalam berbagai aspek yang diukur) adalah sebesar 68.26%. Individu yang memiliki nilai ekstrim tinggi atau rendah hanya ada sekitar 4.56%. Sisanya adalah mereka yang berada sedikit di atas atau di bawah rata-rata namun tidak ekstrim, kurang lebih sebesar 27.18%. Hal ini menunjukkan bahwa dalam realitas, sebesar 68.26% perempuan di dunia adalah perempuan yang tergolong rata-rata kecantikannya. Atau seperti yang dikatakan Rhoda Unger dan Mary Crawford, keduanya psikolog feminis, menampilkan model iklan dengan tipikal seperti di atas sesungguhnya tidak representatif.

Walhasil dengan bentukan-bentukan seperti itu, perempuan selalu berfokus pada tubuhnya. Perempuan sering merasa tidak nyaman dengan tubuhnya. Berbagai kamuflase dilakukan perempuan untuk menutupi bagian tubuhnya. Studi perilaku dengan observasi menunjukkan perempuan sering meletakkan tas di atas paha ketika duduk sehingga perutnya tertutup. Atau perempuan akan membawa buku dengan tangannya yang memegang buku diposisikan di bagian tubuh yang atas, karena mungkin tanpa sadar perempuan berusaha menutupi bagian dadanya.

Simone de Beauvoir, seorang feminis Perancis, sempat dikritik karena memiliki pandangan yang terkesan suram atas tubuh perempuan, dalam bukunya yang terkenal The Second Sex. Namun menurut saya, de Beauvoir hanya ingin memaparkan realitas betapa sejak kecil sampai lansia, perempuan senantiasa berurusan dengan tubuhnya.

Simak saja bagaimana setelah melewati masa kanak-kanak yang penuh dengan reinforcement-reinforcement untuk kecantikannya, perempuan akan memandang perubahan tubuhnya pada masa pubertas dengan lebih penuh keheranan dibanding laki-laki. Jika penis laki-laki hanya menonjol dalam kondisi tertentu, tidak demikian dengan payudara perempuan. Berbeda dengan mimpi basah yang sehabis bangun tidur pun segera berlalu, menstruasi memakan waktu kurang lebih tujuh hari. Jika cairan yang keluar saat mimpi basah tidak mempengaruhi komposisi substansi tubuhnya, saat menstruasi perempuan akan kehilangan sebagian darahnya yang tentu dapat mempengaruhi kondisi tubuh.

Ketika hamil, kepedulian perempuan pada tubuh akan semakin besar.  Jamu, krim, pil, dan bahkan sekarang muncul dalam bentuk susu yang dipelopori Tropicana Slim dibuat untuk mengembalikan bentuk tubuh perempuan. Menyusui bayi menjadi pilihan yang kadang dilematis pada perempuan-perempuan yang mengkhawatirkan payudaranya tidak lagi indah.

Semakin bertambah usia, ketika kulit berkerut dan perut semakin berlemak, maka semakin banyak pernak-pernik yang akan digunakan perempuan untuk menutupi kekurangan tubuhnya itu. Perempuan berharap aksesoris itu dapat mengalihkan pandangan orang lain dari  wajah dan tubuhnya. Pada saat yang sama, akan semakin tebal kosmetika dibubuhkan di wajahnya. Sampai-sampai kita mengenal stereotipe negatif ,” Ih dandanannya menor/medok (tebal) kayak tante-tante.” Dan ketika usia mulai menua, kata awet muda menjadi begitu indah di telinga perempuan.

Tidak heran jika perempuan menjadi target pasar yang paling berpotensi. Klinik kecantikan dan pelangsingan tubuh didirikan, dengan nama yang khas perempuan : Bella, Susan, dan Marie France Bodyline (bukan Susanto atau Pierre France Bodyline misalnya; Marie adalah nama untuk anak perempuan yang cukup populer di Perancis dan Pierre untuk anak laki-laki, Bella juga berarti cantik diambil dari belle dalam bahasa Perancis).

Berbagai kosmetika diproduksi dan tidak pernah tidak laku. Target pasarnya dimulai sejak remaja, sebuah tahap perkembangan transisi saat harga diri (self-esteem) cenderung berfluktuatif sehingga mudah dipengaruhi. Bahkan ada pula produk kecantikan yang ditujukan untuk anak-anak, misalnya sebuah perusahaan multilevel yang membuat lipstik khusus anak.  Atau mungkin kita masih ingat dengan sebuah produk yang berbunyi, “Rambut kakak bagus.”

Kadang produknya mengandung kontradiksi, misalnya mengklaim produknya terbuat dari bahan-bahan tradisional untuk kecantikan perempuan Indonesia tetapi model iklannya adalah para gadis blasteran. Bahkan perusahaan kosmetika ini mengklaim produknya dengan nama yang cukup aneh di telinga saya : putih langsat. (Mengenai ke-putih-an ini dibahas oleh Aquarini Prabasmoro dalam bukunya Becoming White).

Simone de Beauvoir benar bahwa okupasi perempuan pada tubuhnya membuat waktu perempuan semakin terbatas untuk memikirkan hal lain atau melakukan aktivitas lain di luar perihal kebertubuhan. Waktu membaca misalnya, pada perempuan menjadi jauh lebih sedikit dibandingkan waktu yang diluangkannya untuk mengusapkan lotion pemutih, memoles bedak, mengulas maskara pada matanya, ataupun memilih busana yang hendak dikenakan.

Kebertubuhan perempuan dapat membawa dampak lain yang tidak kalah negatif. Anorexia dan bulimia nervosa, dua jenis gangguan makan yang tercatat dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM), sebuah panduan gangguan psikiatris, merupakan gangguan yang boleh dikatakan ‘khas’ perempuan. Gangguan makan ini bukan hanya berbahaya secara psikologis, melainkan juga secara fisik dapat mengancam kematian.  Diet ketat, bedah plastik, dan sedot lemak juga dapat mengancam nyawa perempuan. Rasa rendah diri, kecemasan, dan depresi banyak ditemukan pada perempuan dibandingkan laki-laki. Ditemukan pula bahwa ketiga kondisi ini banyak terjadi pada perempuan pasca melahirkan dan menopause.

Lantas salahkah perempuan? Sakitkah perempuan? Mengadopsi pandangan Alfred Adler, bukan perempuan yang salah, melainkan masyarakat. Bukan perempuan yang neurotik, melainkan budaya kita. Budaya kita telah mengkonstruksi perempuan menjadi objek tatapan laki-laki. Perempuan-perempuan ini bersusah payah menjadi ‘cantik’ untuk memuaskan pandangan laki-laki. Perempuan dididik untuk mengikuti keinginan dan harapan laki-laki.

Perempuan adalah korban dari budaya yang telah mengkonstruksinya menjadi perempuan narsis. Menurut Simone de Beauvoir, perempuan narsis menjadi obyek pentingnya sendiri. Ia percaya bahwa dirinya adalah obyek sebagaimana ditegaskan oleh orang di sekitarnya. Ia terpesona dan menjadi obsesif terhadap citranya sendiri : wajah, tubuh, dan pakaiannya. Adalah budaya patriarkis yang telah menggiring perempuan menjadi narsis dan neurotik.

Bahkan harus saya akui, terlahir sebagai perempuan dalam budaya yang telah dikonstruksi, hal-hal itupun sempat saya rasakan. Terkadang saya cemas ketika tiba-tiba rasanya sulit mengendalikan nafsu makan saya yang cukup besar, tiba-tiba pakaian mulai kesempitan, atau perut mulai membengkak. Kadang saya kesal dengan diri sendiri yang tidak pandai berdandan meski hanya sekedar mengulas maskara. Sampai akhirnya pada suatu titik saya berhenti dan bertanya pada diri sendiri, apakah saya mau menjadi korban budaya yang sakit ini?

Namun tentunya kita tidak hanya berhenti pada menyalahkan budaya yang telah menyuburkan reinforcement terhadap kebertubuhan perempuan. Konstruksi budaya semacam ini seharusnya didekonstruksi. Saya melihat sudah mulai ada iklan-iklan produk yang cukup baik dalam mendekonstruksi kecantikan perempuan. Dove misalnya yang menampilkan bintang iklan yang adalah perempuan ‘biasa’. Dove juga menampilkan model tidak hanya dengan satu jenis rambut, yaitu rambut panjang nan lurus. Namun dalam iklan Dove ada rambut ikal, berombak, lurus, panjang, dan pendek.

Body Shop juga cukup konsisten dalam mendekonstruksi kecantikan perempuan. Dalam sebuah produknya, Body Shop menggunakan model iklan berkulit coklat dengan perut yang tidak sedatar perut perempuan dalam iklan-iklan produk lain. Body Shop juga pernah mengeluarkan slogan yang kurang lebih berbunyi,”Tidak harus putih dan langsing untuk menjadi cantik.” Slogan tersebut menyertai gambar perempuan bertubuh gemuk. Semoga saja ada produk-produk lain yang mau mengikuti jejak kedua produk ini sehingga kecantikan perempuan dapat didefinisikan ulang. Bahkan sebaiknya maknanya diperluas hingga melampaui kebertubuhan.

18 comments on “Perempuan, Tubuh, dan Kecantikan

  1. Setuju !! emangnya perempuan gemuk dan tidak putih gak bisa terlihat cantik??? Salah besar !!! Menurutku bagaimanapun inner beauty sangat mendukung agar orang (baca : perempuan) dapat terlihat cantik.

    Like

  2. esterlianawati

    Thx, yoeltie. Yup2 inner beauty penting bgt, kl kita heppy en gak berhati keji, pastiii deh senyum kita jd manis bangeet 😀 Kecantikan wajah bisa pudar krn usia, dsb, tp kecantikan hati? taela..;)

    Like

  3. buat apa punya tubuh langsing, kulit putih mulus dan wajah cantik tapi di dalam kepalanya gak ada isi apa-apa??
    justru saat ini perempuan harus menunjukan kepada dunia bahwa ia tidak hanya makhluk yang lebih mementingkan “penampilan” saja. kesan pertama memang penting, tapi bukan segalanya jangan sampai perempuan menjadi terlalu terobsesi dengan “penampilan”.toh semua itu akan hilang juga dimakan waktu.
    bukannya jauh lebih penting jika seorang perempuan mampu untuk melakukan hal yang bisa dilakukan juga oleh kaum adam. so..kita tidak mudah diremehkan. saat ini banyak perempuan yang bekerja, memiliki karier yang sukses dan berkeluarga, memiliki penampilan yang oke tanpa harus terlalu terpaku dengan masalah kecantikannya.. menurut saya cantik atau tidaknya seorang perempuan tidak hanya dapat dilihat dari “fisiknya” saja, perempuan yang memiliki inner beauty secara otomatis kecantikannya pun akan terpancar keluar. hal tersebut dapat mempengaruhi pandangan masyarakat mengenai “kecantikan yang sesungguhnya” . intinya sesuatu yang tidak kelihatan (hati, pikiran, emosi) jauh lebih penting daripada hal-hal yang terlihat dimata, karena dunia ini fana..

    Like

  4. Larasatie

    Banyak perempuan mengalami kesadaran palsu dengan;
    berdandan all out (abis-abisan), rela pegal2 karena memakai high heels demi terlihat “indah” di mata pria..
    bahakan jd paranoid terhadap sinar matahari,.sehingga perempuan sering menganggap ketidaknyamanan2 yg dialami menjadi sesuatu yang “wajar”, yang memang dianggap sebagai sebuah fase yang wajib dirasakan krn “kodrat” perempuan..
    Tragis memang..

    Like

  5. esterlianawati

    Sayangnya lingkungan terus membuat mereka semakin meyakini “kodrat” mereka. Tgs kita utk membuka mata mereka..

    Like

  6. andohar purba

    Ha ha ha..boleh beda kan? Ester, salam ya sama temanmu itu. Saya yakin sekali jika temanmu itu duduk berdampingan denganku presentasi, pasti argumentasi2 yang kulontarkan bakalan lebih cerdas. Ga percaya? Silahkan coba deh 😉

    Pikiran saya begini, budaya reinforcement itu tidak perlu dilawan. Mungkin hanya perlu dimaknai ulang atau memasukkan semangat baru ke dalamnya. Ya seperti pendapat Ester juga tampaknya. Inner beauty juga bagus melengkapi skin tampilan luarnya.

    Tapi ada hal lain yangmenarik hati saya dan pernah diskusi dengan teman-teman soal kecantikan. Mungkin lebih tepatnya soal jenis kulit. Mohon ditanggapin ya. Saya tidak sedang berolok-olok. Begini: Kenapa ya? Beberapa kali bersentuhan dengan wanita (tanpa sengaja), kulit ke kulit, misal di stasiun kereta, pintu masuk atau keluar bandara, mal, desak-desakan keluar bioskop, ada refleks yang berbeda-beda yang saya rasakan.

    – Ada jenis kulit perempuan secara refleks saya hindari sewaktu bersentuhan. Kaget! Tidak nyaman, seperti risih..
    – Ada jenis kulit perempuan yang biasa saja dan saya tidak refleks menarik bagian tubuh saya
    – Tapi ada jenis kulit perempuan secara refleks, Kaget juga, namun saya tidak risih tetapi merasa nyaman yang luar biasa, padahal saya tidak mengenalnya. Pernah saya senyum, lalu dibalas senyuman.. entahlah, saya tidak mau mengartikannya macam-macam..

    Dari ketiga peristiwa di atas, saya bukan mau mempersoalkan mulus atau tidaknya. Ini bukan soal mulus atau cantiknya, tetapi ada perasaan nyaman tidak nyaman dan biasa aja itu lho. Adakah yang bisa memberikan penjelasan ini bagi saya?

    Like

  7. esterlianawati

    Kl mslh nyaman ato gak nyaman, en bukan lg msh mulus ato gak mulus, berarti itu sih udah pake hati deh, pak.. Hihihi

    Like

  8. andohar purba

    Yap, tapi mengapa lewat sentuhan kulit, perasaan hati bisa tersentuh juga, bu? huhuhu

    Like

  9. Benar juga, perempuan telah dikonstruksi menjadi “objek” bagi laki-laki, seperti teman mbak Ester, laki-laki sekaligus juga dikonstruksikan menjadi penikmat dan penilai perempuan atas unsur-unsur yang memberikan kesan seksual, seperti pak Purba hehe… saya yakin pak Purba nggak bakal suka bersentuhan dengan kulit ibu-ibu penjual sayur di pasar, walau jauh dari lembut tapi kebal penderitaan itu hehe…
    Tapi mbak Ester, jangan terhanyut dengan iklan Dove dan Bodyshop itu lho… itu terjadi bukan karena simpati terhadap masalah perempuan, semata-mata trik marketing dalam mencari celah dan segmentasi pasar yang berbeda. Lha mereka kan ndak perduli dengan apapun pikiran dan masalah perempuan, biar keriting, lurus, item atau bening sekalipun, yang penting perempuan tetap “mengkonsumsi” produk mereka.
    Dekonstruksi jelas-jelas tidak akan tercapai melalui institusi yang mengutamakan keuntungan, yang ada hanyalah perubahan trend. Sama saja kan, nanti jadi ikonnya “keriting itu cauantik” ato “seksi itu gemuk”, trend itu terjadi 4 dekade silam. Intinya adalah bagaimana perempuan bisa terlepas dari ikon-ikon kecantikan apapun bentuknya itu…
    Saya terkesan dengan second sex Beauvoir. Namun kurang puas dengan anggapan bahwa okupasi seksual membatasi gerak perempuan, karena dengan proses belajar perempuan akan dapat memanajemen hal tersebut. Terbukti dari hasil penelitian Weyther (1997), bahwa sebenarnya potensi perempuan dan laki-laki sama, dan menjadi berbeda ketika memasuki masa remaja tengah, karena disitu konstruk sosial mulai jelas batasnya. Sedikitnya perempuan yang menjadi ilmuwan menurut saya lebih karena terbatasnya akses dan kesempatan perempuan untuk menjadi berarti, tidak hanya sebagai ilmuwan tapi juga posisi yang memegang peranan penting lain. Contoh ekstrim mungkin seperti Joan of Arc yang dibakar gereja, karena dia wanita.
    Salam…

    Like

  10. esterlianawati

    “Intinya adalah bagaimana perempuan bisa terlepas dari ikon-ikon kecantikan apapun bentuknya itu……”

    Thx ya, buat kata2 ini..

    Sering2lah mampir ya, biar perspektif perempuanku makin ‘bener’ 🙂

    Like

  11. really love ur posting!!

    ^^
    count me in on you!

    Like

  12. esterlianawati

    hai, myrainbow,
    thx 4 loving my posting 😉
    salam kenal ya 🙂

    Like

  13. jadi gmn hrsnya kta bersikap sbg perempuan ?
    bknkah Tuhan menganugerahi kita dengan keindahan yang kita miliki .
    bukan saya mendukung untuk orang-orang yang kecanduan kecantikan fisik yang semu . tapi kita juga harus berusaha untuk menjaga anugerah keindahan yang Tuhan berikan kepada kita ? menurut mb. ester gmn caranya ?

    terkadang saya juga berpikir, ‘toh kecantikan mah tidak dibawa mati’. tapi sekarang dan ketika saya berpikir demikian, saya masih hidup, dan masih berinteraksi dengan orang lain . jadi setidaknya saya juga harus berpenampilan lebih enak dipandang orang lain.

    Like

  14. Mau pake produk ini itu selama masih nyaman dan tidak mengganngu kantong ok aja sih, aku sebagai perempuan memang senang memperhatikan rambut,tubuh biar terlihat cantik dan tidak keberatan membawa tubuh kalau dipakai berolah raga dan aku senang tampil rapi dan cantik bukan untuk laki-laki tapi untuk diriku sendiri. Bersih,rapi dan berusaha untuk tampil cantik kan manusiawi lagian enak pula untuk dipandang mata bukan? dan memang penting juga untuk memperhatikan isi hati untuk tidak selalu iri hati pada perempuan lain. kalau luar dan dalam terlihat terawat pasti hasilnya pun akan berakibat percaya diri dan hidup bahagia tanpa memikirkan apa kata orang tentang dirimu melainkan apa kata dirimu tentang dirimu sendiri.

    Like

  15. esterlianawati

    Hai Mbak Fa dan Mbak Desy,
    Mnrtku tdk ada salahnya menjadi cantik, asalkan tidak terobsesi dgn kecantikan itu sendiri. Kecantikan bs menjadi kekuatan buat perempuan, asalkan perempuan tdk dikontrol oleh kecantikan, melainkan justru mampu mengendalikannya.
    Aku setuju dgn mbak desy, perempuan hrs cantik dgn alasan yg lbh mengacu kpd diri sendiri, bukan krn kita dikendalikan oleh tuntutan lingk thd kecantikan perempuan.
    Sy tdk menyalahkan produk2 kecantikan yg mmg berguna utk merawat keindahan yg kita miliki sbg perempuan. Yg sy kritik adlh caranya mengiklankan produknya justu akan membuattubuh perempuan smkn dijadikan objek. Dlm 7 hari kita akan menjadi putih dan krn putih itu kita akan dicintai suami/menarik perhatian cowo yg kita suka. Sgt menyederhanakan kompleksitas dan keindahan sebuah relasi yg terbangun atas nilai2 yg lebih luhur ketimbang keputihan kulit semata 🙂 Mgkn akan jauh lbh baik kl produk2 itu diiklankan dgn konsep otonomi perempuan, memberdayakan perempuan, dan bukan menjadikannya objek kontrol lingkungan.
    Thx a lot for sharing ya..:)

    Like

  16. Hallo mbak Ester,

    Yah.. sayang memang banyak produk2 atau iklan2 kecantikan Indonesia lebih banyak menjadikan perempuan sebagai objek laki2, itu seperti masih tradisi nya orang kita, yang mengacu dari segi agama juga di negara kita yang mayoritas muslim, kalau laki2 itu imamnya perempuan. Jadi aku pikir masih sedikit sekali perempuan Indonesia yang sadar dirinya berguna tanpa berkiblat pada laki2. Pendidikan adalah hal yang sangat penting buat perempuan dan laki2 Indonesia agar saling menghormati, mengerti dan tidak menjadikan salah satu pihak sebagai objek. Sayang nya pendidikan dinegara kita seperti menggapai bintang dilangit yang susah digapai kalau kita bukan orang kaya… Sampai kapan ini berlaku? i don´t know.

    Like

  17. esterlianawati

    hai mbak desy,
    susah mmg utk menumbuhkan kesetaraan atr prmpuan n laki2 dlm masy kita. rasanya ada aja hambatannya.
    btw, sy kira sbnrnya bukan mslh ajaran agama ttt jg, tp tafsir thd ajaran tsb. tmbh susah lg krn yg menafsirkan itu jg penganut patriarkis. sng rasanya baca tafsir yg feminis, spt Asma Barlas dan Amina Wadud bhw Islam sbnrnya ramah thd perempuan.
    ngmgin soal iklan, media sbnrnya bs jd alat efektif utk mengajarkan kesetaraan kpd masy.seandainya yg bikin iklan itu mau menampilkan perempuan sbg perempuan, bukan sbg objek laki-laki.. apa susahnya ya menampilkan kecantikan perempuan tanpa perlu disandingkan dgn pandangan/tatapan mata pria? mgknkah perlu ada pelatihan kesetaraan gender buat para pembuat iklan. jd kl susah masuk lwt pendidikan formal, kita masuk dl lwt jalur informal..
    tengkyu ya mbak desy 🙂

    Like

  18. Inner beauty adalah kecantikan dari dalam dari serang wanita, merupakan sikap dan kepriadian yang berbeda dengan kecantikan fisik

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: